Selasa, 10 September 2013
Beriku Satu Nama Pecinta
Sujud malamku penuh doa..Ku lantunkan mesra dalam sajadahMu..Sebut namaMu di atas cinta..Istikharah cinta dalam alunan syahdu..Berikanku satu nama PecintaMu.
Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku, lagi-lagi aku bermimpi yang sama. Siapa sebenarnya dia? Seorang laki-laki yang tak pernah kutemui, tapi begitu sendu menatapku. Ahh...hanya bunga tidur, kenapa aku harus pusing memikirkannya.
"Mbak, ya mbak? Please!"
Laki-laki yang ada di hadapku sekarang, persis seperti makhluk yang selalu hadir di mimpiku akhir-akhir ini.
"Apaan sih? Nggak usah gila deh!"
Aku bergegas melangkahkan kakiku, sedikit berlari hanya untuk menghindari laki-laki gila itu. Gimana nggak dibilang gila, kalo tiba-tiba dia bilang mau ngelamar aku. Cuma orang gila yang ngotot mau ngelamar, padahal dia baru ketemu aku di sini untuk pertama kalinya. Mana ketemunya di rumah sakit tempatku bekerja, jadi wajar donk kalo aku jadi ngganggap dia seorang yang konyol atau mungkin stress karena tunangan atau istrinya baru meninggal.
Tapi tadi selalu menghantuiku, nggak salah lagi dia adalah makhluk yang selalu datang di tiap mimpiku.
Kamis, 05 September 2013
Tapi Aku Mencintainya!
Sebut saja dia, Jelita. Seorang wanita yang memang jelita seperti namanya. Entah berapa kali dia pacaran bahkan dia sudah melakukan hal yang tak wajar. Seringkali dirinya menuntut untuk berhenti dari kesenangan yang sudah merobohkan harga dirinya sebagai seorang wanita, bagaimana tidak jika hubungan yang berlebihan itu hanya berstatus pacaran bukan suami istri.
Alasan yang kerap kali dia ungkapkan karena dia terlalu mencintainya, sampai tidak mungkin untuk meninggalkan kekasihnya dengan cara atau alasan apapun. Ya, bukankah dunia ini sudah gila, semua yang terlihat biasa bukan lagi menjadi aib tapi justru memalukan kalau tidak ikut didalamnya.
"Tapi aku sangat mencintainya, kalau sampai aku nggak melakukan itu dia akan meninggalkan aku. Setalah apa yang terjadi, aku nggak mau kehilangan dia."
Sabtu, 06 April 2013
Kalian Apakan Perempuan Kami?
Pada tanggal 4-15 Maret 2013 Komisi Perempuan PBB mengadakan semacam kongres tahunan yang bertujuan mengevaluasi negara-negara tentang perempuan dan anak dalam sebuah Piagam kesepakatan yang biasanya diperbaharui setiap tahunnya.
Untuk diketahui bahwa ternyata piagam kesepakatan itu justru tidak menghormati agama dan budaya terlebih terhadap hak perempuan dan anak yang menurut mereka harus disejajarkan dengan laki-laki dalam peran dan penetapan hukum. Seperti halnya “Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Gadis”, mungkin kita akan berfikir bahwa hal itu sudah seharusnya, namun ternyata dibalik tema itu Komisi Perempuan PBB justru menyingkirkan fitrah dari seorang perempuan sebagaimana Islam mengusung fitrah sebagai sebuah anugrah untuk kaum wanita.
Kamis, 14 Februari 2013
Be My Valentine, Sayang!
Sebuah kado merah jambu yang terikat dengan pita warna senada plus sebuah kartu ucapan dengan tulisan 'Be My Valentine', tergenggam erat di tanganku. 2 kali sudah aku mendapatkan kartu ucapan dengan tulisan yang sama di hari yang sama, apalagi kalau bukan hari valentine, dan tentu saja dari orang yang sama.
Aku membukanya perlahan, sebuah boneka lucu berwarna pink. Ah, kenapa dia nggak mengerti juga? Bukankah tahun lalu aku sudah berkata bahwa kasih sayangnya nggak perlu diungkapkan terlalu jauh. Bukankah aku dan dia sama-sama mengerti, ada hari valentine ataupun nggak, sudah sepantasnya ini nggak pernah terjadi di antara kita. Andai kamu lebih paham akan teriakan cinta, maka ia akan berteriak, "ajaklah aku untuk membersamaimu saat keningmu melekat dalam sujud"
Senin, 22 Oktober 2012
Plis, Beri Aku Kepastian!
"Kira-kira aku pantes nggak ya bersanding dengannya. Dia berilmu, sedangkan aku? Jauh dari berilmu."
"Siapa?" aku mengalihkan pandangan langsung ke matanya.
"Kemarin ada yang ngelamar aku."
"Hah! Terus-terus?"aku memburu.
"Aku belum berani ngasih jawaban." Matanya meredup, ada ragu yang nggak bisa ditutupinya.
"Orangtuamu gimana?" aku makin penasaran.
"Mereka belum aku beri tahu,"katanya lagi.
"Lho, terus dia ngelamar lewat siapa?"
"Lewat chat Facebook, soalnya dia jauh di sebrang sana."
"Heh!"Aku agak terkejut, walaupun aku sering mendengar kalau banyak yang menikah karena bertemu lewat facebook. Tapi kali ini menimpa sahabatku sendiri.
"Terus kamu tahu dia berilmu dari mana?"tanyaku lagi.
"Ya dari obrolan kita, dari status-statusnya, dari Link-link yang sering dia share buat aku. Dia juga anti pacaran sama kayak aku, cuma ya itu, kalo aku mau nerima aku harus mau nunggu dia selesai kuliah dan kerja dulu."
Alisku terpaut, resah dan bingung,"Kalo dia memang masih mau nyelesain kuliah atau kerja dulu, kenapa ngelamarnya sekarang? Lewat Facebook pula? Kenapa nggak langsung sama orangtuamu?"
Dia mengangkat bahunya,"entahlah, tapi aku sudah terlanjur memiliki perasaan dan berharap padanya. Cuma aku nggak tahu harus bagaimana, mau diterima tapi nggak pasti, nggak diterima aku terlanjur suka sama dia. Kriteriaku banget."
Aku menghela nafas, aku juga bingung apa yang harus aku lakukan pada sahabatku ini.
***
Sabtu, 25 Agustus 2012
Jumat, 15 Juni 2012
Ibu, Madrasah Peradaban
Bismillahirrahmanirrahim...
Menjadi seorang Ibu Rumah Tangga sering kali di pandang sebelah mata, hanya sebagai profesi yang tidak menguntungkan kaum wanita. Urusan remeh temeh yang tak jauh dari “ dapur”, “sumur” dan “kasur” menjadi alasan para wanita enggan bahkan minder jika ditanya tentang pekerjaan. Apalagi bila wanita yang menjadi seorang ibu ini mempunyai jenjang pendidikan yang tinggi, ada yang memandang kasihan karena setelah sekolah tinggi-tinggi ternyata “hanya” menjadi seorang Ibu Rumah Tangga.
Di luar dari itu semua, sebenarnya perlu kita sadari bahwa sebuah profesi yang sering di pandang sebelah mata ini bukan hanya sebuah profesi semata. Tapi, sebuah Fenomena kehidupan yang akan membentuk sebuah generasi Robbani. Tak ayal, seorang ibu dalam sebuah rumah tangga sangat berperan penting. Ia bagaikan pilar kekuatan dari kekokohan sebuah keluarga. Kebahagiaan di dalam rumah pun karena adanya peran seorang ibu yang memberikan kasih sayangnya dengan penuh ketulusan, tapi bisa jadi adanya konflik dalam rumah tangga karena kurangnya peran ibu.
Ibu adalah Madrasah pertama bagi anak-anaknya. Di tangan seorang ibu lah generasi tangguh yang cerdas dan berakhlak mulia memunculkan sebuah harapan untuk memimpin ummat ini di masa yang akan datang. Tanpa disadari, semenjak anak dalam kandungan, seorang ibu telah berperan penting. Menurut berbagai penelitian, bahwa janin sudah dapat merasakan perasaan ibunya baik ketika sedih maupun ketika bahagia. Janin juga sudah bisa mendengarkan, maka dari itu para peneliti menganjurkan semua ibu yang tengah mengandung untuk memperdengarkan musik klasik pada janin agar bisa merangsang perkembangan otak si calon bayi. Tapi tentu saja, kita sebagai seorang muslimah lebih baik memperdengarkan Lantunan ayat-ayat Al Quran ataupun kalimah Tayyibah, agar calon bayi kita mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala sejak dalam kandungan.
