Minggu, 11 Maret 2012

Jangan Menantiku, cantik!

Bismillahirrahmanirrahim...

"Maukah anti menantikan ana, ukhti? Ana pasti akan segera melamar setelah selesai kuliah" ujar seorang ikhwan dibalik hijab internet. Tak ada jawaban, sepertinya akhwat di sebrang sana sedang menimbang-nimbang.

"Tapi kalau antum justru memilih orang lain giman? Nanti ana nunggu lama ternyata antum nggak kunjung datang."Akhwat ini masih berpikir yang masuk akal, belum dibutakan.

"Nggak ukhti, andai anti tahu harapan ini begitu besar. Tapi tak mengapa kalau anti nggak menunggu ana, mungkin anti bukan jodoh ana. Semoga saja ana mendapatkan jodoh seperti anti, karena hanya anti yang ana harapkan untuk jadi ummi dari anak-anak ana kelak," aku sang ikhwan.

Luluhlah sudah mata dan hati sang akhwat dengan kata-kata pujangga, berhasilah sudah mereka membuat janji angan-angan yang tak pasti. Atau jangan-jangan itulah daya tarik syetan untuk mengawali sebuah hubungan yang  memuakkan.

***

Lain lagi dengan seorang akhwat yang sedang terlihat bersedih juga dibalik hijab Internet.

"Mas, yakinlah aku akan menanti kedatanganmu. Aku akan menunggumu menyelesaikan kuliahmu,"aku sang akhwat sendu.

Kamis, 08 Maret 2012

Media 'Kutukan' Jilbab

Bismillahirrahmanirrahim...

Judulnya serem ya sob? Bukan bermaksud menakut-nakuti, tapi aku rasa memang itulah judul yang pas dengan yang akan kamu baca nantinya.

Kamu tahu kalau media adalah tempat sesuatu bisa mendunia, menjadi populer, menjadi terkenal dan menjadi yang paling dicari. Alasannya tentu nggak jauh dari yang namanya "Gaul", trend dan daya tarik.

Banyak yang menganggap bahwa wanita cantik itu berambut panjang lurus, kulit putih, kaki yang jenjang, tubuh yang tinggi, baju yang kehabisan bahan. Media lah yang menciptakannya untuk merangsang, mempengaruhi otakmu agar apapun yang disampaikan media akan menjadi yang kamu setujui dan sepakati. Alhasil yang keluar dari jalur media seperti contoh wanita cantik di atas akan menjadi sesuatu yang "jelek", nggak banget, nggak gaul, nggak ngtrend deh pokoknya.

Selasa, 06 Maret 2012

Sehangat Dekapan Facebook

 

Bismillahirrahmanirrahim...

Tubuhku terasa berguncang hebat. Hah! Gempa!

"Cepetan bangun Zahra! Sholat subuh."

Aku mengucek mata. Masih kurasakan guncangan pada tubuhku. Kembali aku mengucek mata, lalu melihat di sekelilingku. Aku nggak di kamar. Ku lihat di depanku layar monitor masih menyala. Argh..Komputerku belum  dimatikan, rupanya aku ketiduran.

"Tidur jam berapa semalam? Facebookan lagi sampai ketiduran!" ujar kak Salma sebal.

Aku baru sadar kalau Facebookku belum ku matikan juga, mungkin kak Salma sempat melihat Facebookku. Aku mendesah perlahan. Aku segera meng Log Out facebookku, lalu Shut down, sekejap saja layar monitor dihadapanku berubah menjadi hitam.

"Akhir-akhir ini kamu sering sekali terlambat bangun sholat subuh dik, apa sih yang kamu cari di Facebook sampai harus bergadang? Atau kamu chatting sama cowok ya?" selidik kak Salma.

"Kakak mau tau urusan orang aja," cibirku sambil berjalan santai menuju kamar mandi.

"Kamu itu zahra, kemaren dimarahin bunda, sebelumnya dimarahin ayah. Emang enak dimarahin mulu?"

"Emang gue pikirin!"

***

Sabtu, 18 Februari 2012

Ijinkan Aku Membagi Dunia Kita Dengannya, Suamiku!



Bismillahirrahmanirrahim...

“Akhwat tadi lho cantik yaa by, yang lewat tadi lho.” Aku mencolek suamiku yang sedang khusyuk di depan layar komputer.

“Mana?” langsung celingukan, tapi yang dicari sudah jauh mengayuh sepedahnya.

“Udah lewat”, kataku cuek.

“Waah...bisa tuh mi?” Suami menggodaku.

“Bisa apa?”

“Jadi yang kedua,” sambil cengengesan cuek kembali lagi ke layar komputer.

“Mau? Boleh, ntar aku coba cari yang tadi anak mana, tiap pagi juga lewat sini.”

“hahahah...” suami tertawa begitu lebar sambil mengelus kepalaku.

“Bukan nggak mau mi, tapi nggak sanggup. Belum berani lah, nanti aja kalo udah berani,” lanjutnya lagi.

Kamis, 16 Februari 2012

Galauwers pun Harus Keren

Bismillahirrahmanirrahim...

Nggak perlu harta, tahta, bahkan muka yang cakep buat mencintaimu, dan sungguh aku percaya perkataanmu.Tapi aku perlu Hati yang kuat biar siap kalo kamu menyakiti aku.

Super sekali galau nya. Ini hanya salah satu kisah kegalauan, masih banyak barisan kata yang memenuhi wall dari jejaring sosial yang kini semaking ngetrend. Seolah-olah agar semua orang tahu tentang kegalauannya.

Galauwers kini sedang merebak di kalangan remaja, bahkan dengan sok tahu nya anak-anak pun ikut-ikutan tanpa mengerti artinya. Yang tua-tua pun seolah nggak mau kalah, akhirnya ikut-ikutan menjadi galauwers. Galau sudah menginfeksi semua kalangan dari yang jatuh hati sampai yang patah hati. Kegundahan, kegelisahan, minder, gugup bisa menjadi langkah awal virus galau menjalar.

Senin, 13 Februari 2012

Valentine itu...Sesuatu!

Bismillahirrahmanirrahim...

Siapa sih yang nggak kenal dengan kata valentine, yang kanak-kanak sampai yang tua-tua kalo ditanyain tentang valentine pasti manggut-manggut. Meski aslinya mereka nggak paham maksud dari valentine, paling yang mereka tahu hanya sekedar berbagi kasih sayang dengan coklat atau bunga, terus warna-warna pink.

Coba saja, perhatikan di sekeliling kamu, penjualan coklat dan boneka sepertinya mulai melonjak. Di toko-toko, Mall, yang ditonjolkan pasti coklat dan boneka, tapi tau nggak kalo ternyata ada penjualan terlaris diantara boneka dan coklat, yaitu KONDOM. Haapp...mulutnya ditutup, nggak usah kaget.

Jilbab? Nggak Banget!

Bismillahirrahmanirrahim...

Katakanlah aku wanita yang enggan dikekang oleh apapun dan siapapun, apalagi dengan sebuah sistem aturan yang bernama agama. Aahhh...capek kalo udah mendengar ceramah-ceramah yang itu-itu saja, katanya semua agama mengajak pada kebaikan, nyatanya hanyalah sebuah rantai untuk mengekang kepribadian seseorang. Agama islam yang ada di KTP ku hanyalah sekedar sarana agar aku nampak beragama, tapi kalo suruh ngikutin aturan islam,adduuuhhh...apalagi dengan yang namanya tutup kepala, kerudung, jilbab, Nggak banget! Ngeliatnya aja gerah, apalagi makenya.
Hingga suatu hari, seseorang menyadarkanku dari kegelapan yang berkepanjangan. Cahaya yang merasuk hatiku, lambat laun mulai bersinar lebih terang. Dia adalah sahabatku.

Entah sejak kapan dia mengenakan jilbab, jilbab yang sangat aku benci. Tapi karena sahabatku yang memakainya, mau nggak mau, aku juga tetap dekat dengannnya, toh aku benci dengan jilbabnya bukan dengan sahabatku. Aku pun mulai iseng bertanya.

"Ngapain sih Cha, pake baju kayak ginian?" aku sengaja mengibaskan jilbab yang dikenakannya.