Senin, 19 Desember 2011

Pliiss deh...Jangan Ge-eR!

Bismillahirrahmanirrahim...

Assalamu'alaikum , jangan lupa nanti sore rapat :), senyumku terkembang tanpa aku sadari. Ah..SMS dari Fadhil, Ketua organisasi yang sedang aku ikuti. Sudah 2 bulan ini aku mendampinginya sebagai sekretarisnya, dan sudah 2 bulan pula ia begitu perhatian padaku.

Wa'alaikumsalam, insyaallah akhi :),  balasan SMS pun ku kirim. Masih dengan senyum yang terkembang, pikiranku pun melayang pada wajah Cool nya dan tiba-tiba teringat pada perhatian-perhatiannya. Bahkan ia sering meningatkanku untuk Tahajjud dan Tilawah, tak jarang pula ia SMS aku hanya untuk mengingatkanku menjaga kesehatan. Siapa coba yang tidak bahagia diberi perhatian lebih seperti itu?

"Syifa?" aku menoleh mencari asal suara masih dengan senyum lebar yang ditimbulkan dari getar-getar SMS dari Fadhil.

"Senyum-senyum terus, mikirin apa Neng?"Rita menggodaku, sedangkan aku yang digoda hanya nyengir kuda.

"Apaan sih?cerita dong!"Rita menyikut lenganku perlahan.

"Mau tauuu...aja!"Aku meninggalkan Rita begitu saja.

SMS-SMS dari Fadhil terus mengalir deras, sederas perasaanku padanya. Aku merasa yakin kalau Fadhil memiliki perasaan khusus padaku. Lama-lama hati ni penat juga, ingin rasanya menumpahkan rasa, apa arti dari perhatian Fadhil padaku selama ini? paling tidak kita jadi sama-sama tahu bahwa kita punya rasa.

Rabu, 14 Desember 2011

Mendingan Loe..Gw..End!

Bismillahirrahmanirrahim..


Aku memang tak mengerti apa maksud dari kata-kata manismu, merayu, mengadu, sampai mengaduh. Namun aku sangat tahu bahwa kau meminta perhatian dariku, berharap lebih dekat denganku.


Tapi maaf , aku lebih memilih menjaga kehormatanku dan agamaku daripada terjerat dalam kejahilan syetan. So...mendingan Loe...Gw..End!


Hati ini memang lemah ketika melihatmu, mendengar suaramu, terekam begitu jelas dalam benakku. Namun aku sangat tahu bahwa kau pun merasakan hal yang sama denganku.


Tapi maaf, bukan ku tak mau meneruskan perasaan ini, ku hanya lebih memilih menjaga hati ini untuk yang terkasih kelak. So..mendingan Loe...Gw..End!


Kala ku membaca status islami mu di facebook, dada ini selalu bergetar. Karena kau selalu bilang semua itu untuk penyemangatmu dan penyemangatku.


Tapi maaf, getaran itu adalah tanda syetan tengah beraksi di antara kita. Jadi ku lebih memilih bergetar ketika ku membaca ayat-ayat cinta-Nya. So..mendingan Loe...Gw...End!

Kamis, 01 Desember 2011

Cahaya dari Rasa Kehilangan

Bismillahirrahmanirrahim...

Pahit..sangat pahit...

Bila aku harus kehilangan dia, mendingan aku nggak usah lagi kenal yang namanya cowok. Sakit hati ini...sakit.

“Kalau saja cinta itu benar adanya untuk Allah dan dari Allah, aku yakin, kamu justru merasa harus kehilangan dia.”

Suara di belakangku membuat aku tersentak dari lamunanku. Mbak Ayu segera duduk di sampingku. Aku segera menyeka air mata yang terus mengalir  tak terkendali.

“Tapi mbak, aku udah terlanjur cinta. Udah banyak mimpi indah yang kita rancang sampai ke rencana menikah. Eeehh...dia justru gampang banget berpaling ke cewek lain. Katanya nggak cocok ta’arufan sama aku, tapi kenapa dia mesti merancang mimpi segala kalau memang nggak cocok?”

Rabu, 30 November 2011

Temani Aku Sejenak

Bismillahirrahmanirrahim..

“Ayah, main mobil-mobilan bareng  aku yuk!”

Seorang anak berlari menghampiri ayahnya yang sedang asyik menerima telpon.

“Sebentar Nak, ayah lagi telpon.”

“Ah...ayah. Ini kan hari libur, telpon terus...telpon terus!”

“Ayah kan lagi sibuk, main sendiri saja!” dengan nada membentak sang ayah menimpali.

Sang anak pun bermain sendiri, meski gurat kesedihan telah ditampakkan pada sang ayah.

Tak terasa waktu terus bergulir, sang anak telah tumbuh dewasa sedangkan sang ayah telah mulai menua.

“Nak, ke rumah ayah ya? Ayah dan ibu kangen sama kamu.” Sang ayah menceritakan kerinduannya untuk bertemu sang anak melalui sambungan telpon.

“Nanti ya yah, kalau aku sudah ada waktu longgar,” sahut sang anak dari sebrang sana.

“Sebentar saja Nak.”

“Iya, nanti pasti aku ke sana, tapi nunggu kalau ada waktu.”

Sambungan telpon pun terputus begitu saja, sang ayah hanya mampu menghela nafas.

Kamis, 03 November 2011

Afwan, Ku Tolak Khitbahmu

Bismillahirrahmanirrahim...

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah.

Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’. ”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

Minggu, 16 Oktober 2011

Terimakasih Karena Membuatku Merasa Sempurna

Keyakinan akan kehadiran seorang kekasih yang  menjadi pendamping tentu disertai dengan keyakinan atas pilihan-Nya.  Pilihan-Nya tak akan pernah salah bukan?

Banyak wanita yang sudah menjadi seorang istri mengeluh karena Allah Azza Wa Jalla tidak memilihkan orang yang tepat untuknya, hanya karena dia merasa bahwa orang yang Allah pilihkan tidak sesuai dengan harapan.

Inginnya yang romantis dan perhatian, tapi ketika menikah ternyata pasangan kita jarang sekali menunjukkan sisi romantisnya. Sebagai seorang wanita tentu hal semacam ini akan menimbulkan rasa yang luar biasa tidak menyenangkan, karena wanita memang selalu ingin diperhatikan.